Showing posts with label matematika. Show all posts
Showing posts with label matematika. Show all posts

Sunday, December 30, 2018

Gerbang Logika ( Logic Gates)

Gerbang Logika(Logic Gates)  adalah blok dasar untuk membentuk rangkaian elektronika digital atau bisa dikatakan Unit  fungsional  terkecil  yang  dapat  melaksanakan  fungsi  logika. Dinamakan gerbang logika karena unti tersebut dapat bertindak sebagaimana gerbang atau pintu gerbang. Jika pintu gerbang ditutup, maka semua yang berada di dalam tidak dapat masuk, dan semua yang berada di luar tidak dapat masuk. Sementara itu, jika pintu gerbang dibuka, maka sesuatu yang berada di luar dapat masuk. Atau secara teknis, sesuatu dari masukan dapat menuju ke bagian keluaran. Masuknya sesuatu dari bagian masukan ke bagian keluaran tersebut dapat hanya dimasukkan apa adanya atau melalui proses modifikasi terlebih dahulu.

Sebuah gerbang logika dapat melarang atau memperbolehkan sesuatu yang berada di bagian masukan menuju ke bagian keluaran. Sesuatu yang melewati gerbang logika tentu berupa data logika. Data tersebut diwakili oleh tegangan tertentu sesuai yang telah dijelaskan di Bab 1. Terdapat tiga gerbang logika dasar, yaitu NOT, OR dan AND. Setiap operasi logika dasar dapat dibentuk oleh sebuah gerbang logika. Gerbang-gerbang logika dapat  dibuat  dari  komponen  dioda,  resistor  dan  transistor.  Beberapa  gerbang  dasar tersebut dapat dirangkai  menjadi sebuah untai logika untuk membentuk  suatu fungsi logika.

Sistem digital biasanya melibatkan lebih dari satu gerbang yang membentuk suatu untai logika yang akan membentuk fungsi logika tertentu. Untuk memudahkan penggambaran fungsi logika dalam suatu untai elektronis, digunakanlah lambang gerbang logika. Terdapat dua jenis lambang yang sering digunakan, yaitu lambang tradisional dan lambang kotak. Lambang tradisional sering digunakan untuk tujuan pemahaman  ilmu teknik digital, sedangkan lambang kotak sring digunaka untuk menggambarkan  suatu fugnsi logika dalam bidang elektronis praktis.
Secara umum gerbang logika dapat dibagi menjadi dua, yaitu gerbang dasar dan gerbang kompleks.

Gerbang logika(Logic Gates) dasar ada tiga, yaitu

1. NOT

Gerbang NOT sering disebut gerbang inverter karena berfungsi membalik atau menginversi logika masukan. Tanda lingkaran kecil pada keluaran gerbang ini merupakan tanda pembalik. Tanda ini akan banyak dijumpai dalam berbagai gerbang dengan fungsi yang sama. Jika masukan gerbang NOT berlogika 0 maka saklar dalam kondisi terbuka. Dan jika masukan gerbang NOT berlogika 1 maka saklar dalam kondisi tertutup. Keadaan lampu menyala mewakili logika keluaran 1 dan keadaan lampu padam mewakili logika 0.

2. OR

Keluaran gerbang OR akan berlogika 1 jika salah satu masukannya 1. Notasi Boole untuk gerbang OR adalah tanda + (plus). A yang di-OR-kan dengan B dinotasikan A + B.

3. AND

Keluaran gerbang AND akan berlogika 1 jika semua masukannya 1. Notasi Boole untuk gerbang AND adalah tanda . (kali). Gerbang AND dapat mempunyai dua masukan atau lebih. A yang di-AND-kan dengan B dinotasikan A.B Ketiga tersebut menjadi dasar bagi pembentukan beberapa gerbang lain. Sedangkan gerbang kompleks dapat tersusun dari beberapa gerbang dasar. Contoh gerbang kompleks adalah:

1. NOR (NOT-OR)

Gerbang NOR merupakan gabungan gerbang OR dan NOT. Gerbang NOR dapat dibentuk dengan menambahkan gerbang NOT di bagian keluaran gerbang OR Keluaran gerbang NOR merupakan kebalikan dari keluaran gerbang OR

2. NAND(NOT-AND)

Gerbang NAND merupakan gabungan gerbang AND dan NOT Gerbang NAND dapat dibentuk dengan menambahkan gerbang NOT di bagian keluaran gerbang AND Keluaran NAND merupakan kebalikan dari keluaran gerbang AND

Logic Gates XOR dan XNOR >>

Saturday, November 24, 2018

Peluang Kejadian

1. Percobaan,Ruang sampel dan Titik Sampel
percobaan adalah sembarang proses yang di lakukan untuk menghasilkan data. Ruang sampel adalah himpunan dari semua hasil yang mungkin dalam suatu percobaan. sedangkan titik sampel adalah anggota-anggota dari ruang sampel.
Contoh :
Dalam percobaan melempar sebuah dadu bersisi enam, maka ruang sampel: S = {1,2,3,4,5,6}. Banyaknya titik sampel: n(S) = 6 dan titik sampelnya adalah 1, 2, 3, 4, 5dan 6.
Contoh :
Dilakukan percobaan pelemparan satu mata uang dan sebuah dadu sebanyak satu kali. Jika A mewakili munculnya mata uang bersisi angka dan G adalah munculnya mata uang bersisi gambar, buatlah tuang sampel dari percobaan tersebut !

jawab :
Mata uang : {A,G}
Mata dadu : {1, 2, 3, 4, 5, 6}
S={ (A,1), (A,2) , (A,3) , (A,4) , (A,5) , (A,6) , (G,1) , (G,2) , (G,3) , (G,4) , (G,5) , (G,6) }
n(S) = 12
2. Kejadian
Kejadian adalah himpunana bagian dari ruang sampel . kejadian dinotasikan dengan huruf kapital.
     a. Kejadian Sederhana
     Kejadian yang hanya memiliki satu sampel.
     Contoh :
     K = kejadian munculnya angka pada pelemparan sebuah mata uang logam
     K = {A} →      n(K) = 1

     b.Kejadian majemuk
     Kejadian yang memiliki lebih dari satu titik sampel. kejadian majemuk juga dapat dikatakan sebagai gabungan dari beberapa kejadian sederhana.
    Contoh :
     P = kejadian munculnya mata bilangan prima = {2,3,5} → n(P) =3
3. Peluang kejadian
Definisi :
a.Peluang suatu kejadian A sama dengan jumlah terjadinya kejadian A(k) dibagi dengan seluruh hasil yang mungkin (n).

P(A) = k/n
b. jika Sa= adalah ruang sampel dari suatu percobaan dimana masing-masing titik sampel memiliki kesempatan yang sama untuk muncun dan E suatu kejadian, maka peluang kejadian E adalah :
P(E) = n(E)/n(S)

Contoh :
Dua buah dadu dilempar bersamaan sebanyak satu kali. A adalah kejadian munculnya jumlah mata dadu sama dengan 7. Berapa peluang kejadian A?
Jawab :
S={(1,1) , (1,2) , .......... , (6,4) , (6,5) , (6,6)} → n(S)=36
A = {(1,6) , (2,5) , (3,4) , (4,3) , (5,2) , (6,1)} → n(A)=6
P(A) = n(A)/n(S) = 3/36 = 1/6

Contoh :
Suatu kotak berisi 10 bola, 6 bola merah dan lainya bola putih. dari kotak itu diambil 3 bola secara acak. Berapa peluang yang terambil :
a. semuanya bola merah
b. dua bola putih dan satu bola merah
Jawab :
dari sepuluh bola diambil 3 bola secara acak, maka seluruhnya ada :
10C3 =10!/7!3! = 10.9.8 / 3.2.1 = 120 cara
a. 3 bola merah dapat diambil dari 6 bola merah, dapat dilakukan dengan. 6C3= 6!/3!3! = 6.5.4 / 3.2.1 = 20 cara
jadi peluang terambil semuanya bola merah adalah : P(semua bola merah ) = 20/120 = 1/6
b. 2 bola putih dapat diambil dari 4 bola putih, dapat dilakukan dengan : 4C2=4!/2!2! = 4.3/2.1 = 6 cara
1 bola merah dapat diambil dari 6 bola merah , dapat dilakukan dengan 6C1=6!/5!1! = 6/1 = 6 cara
dengan menggunakan kaidah perkalian, mengambil 2 bola putih dan 1 bola merah dapat dilakukan dengan 6x6 = 36 cara.
Jadi, peluang yang terambil 2 bola putih dan 1 bola merah adalah 36/120 = 3/10

4. Frekuensi Harapan Suatu Kejadian
Misalkan suatu percobaan dilakukan sebanyak n kali dengan peluang kejadian A adalah P(A). Frekuensi harapan kejadian A adalah:

Fh(A) = n x P(A)

Contoh :
Dilakukan percobaan pelemparan sebuah dadu sebanyak 60 kali.
Berapakah Frekuensi harapan muncul angka ganjil yang prima?
Jawab :
Misalkan C kejadian muncul angka ganjil yang prima pada pelemparan sebuah dadu, sehingga c = {3,5} dan P(C) = 2/6 = 1/3

Fh(C) = n x P(C) = 60 x 1/3 = 20
jadi frekuensi harrpanya adalah 20.
Contoh :
Sebuah perusahaan asuransi memperkirakan bahwa peluang hidup seorang nasabah dalam kurun waktu dari januari hingga desember 2006 adalah 92%. jika perusahaan asuransi itu memiliki 8.500 orang nasabah, berapa orang yang diharapkan berhak menerima klaim asuransi dalam kurun waktu tersebut ?
Jawab :
Karena peluang hidup seorang nasabah 92% maka peluang meninggalnya adalah 8% atau 0,08. perusahaan memiliki 8500 nasabah, maka banyak nasabah yang diharapkan berhak menerima klaim asuransi adalah : 0.08 x 8500 = 680 orang.

5. Peluang kejadian Majemuk
Jika A dan B dua kejadian sembarang, maka berlaku :

P(AUB) = P(A) + P(B) - P(A ∩ B)
Contoh :
Dalam pelemparan sebuah dadu hitunglah peluan gmuncul mata dadu ganjil atau mata dadu prima !
Jawab :
Ruang sampel S = { 1, 2, 3, 4, 5, 6 }
Misalkan : A = kejadian muncul mata dadu bilangan ganjil
A = {1,3,5} sehinggan n(A) = 3 dan P(A) = 3/6 = 1/2
B = kejadian muncul mata dadu bilangan prima
B = {2,3,5} sehingga n(B) = 3 dan P(B)= 3/6=1/2

A∩ B = { 3, 5 } sehingga n(A ∩ B) = 2 dan P(A ∩ B )= 2/6 = 1/3
P(A ∪ B) = P(A) + P(B) - P( A ∩ B ) = 1/2 + 1/2 - 1/3 = 2/3
Cara lain :
A ∪ B = {1,2,3,4,5} sehingga n(A ∪ B) = 4 dan P(A ∪ B) = 4/6 = 2/3
contoh
dari hasil penelitian yang diakukan pada suatu wilayah terhadap kepemilikan TV da radio diperoleh data : 20% penduduk memiliki TV, dan 40% memiliki radio , serta 15% memiliki TV dan radio . jika dari wilayah itu diambil satu orang secara acak, berapa peluan dia memiliki tv atau radio ?
Jawab :
Misalkan : A himpunan penduduk yang memiliki TV, maka p(A) = 0.2, B himpunan penduduk yang memiliki radio , maka P(B) = 0,4
A ∩ B himpunan penduduk yang memiliki TV dan radio, maka P(A ∩ B) = 0,15. peluang seorang pemilik tv atau radio adalah :
P(A ∪ B) = P(A)+P(B) - P(A ∩ B) = 0,2 + 0,4 - 0,15 = 0,45 atau 45 %
a. peluang dua kejadian saling
Jika A dab B dua kejadian saling lepas, maka A ∩ B =Ø sehingga peluangnya P(A ∩ B ) = 0/ dengan demikian peluang kejadian A dan B yang saling lepas dirumuskan sebagai :

P(A ∪ B) = P(A) + P(B)
Contoh :
Pada pelemparan sebuah dadu merah ( m ) dan sebuah dadu putih ( p ) , hitunglah peluang muncul jumlah mata dadu 6 atau jumlah mata dadu 10 !
Jawab :
S = { (1,1) , (1,2) , .......... , (1,6) , (2,1) , (2,2) , ........, (6,6) } → n(S) = (6) 2 = 36
Misalkan : A = kejadian muncul mata dadu 6
A = {(1,5) (2,4) (3,3) (4,2) (5,1)} sehingga n(A) = 5 dan P(A) = 5 / 36
B = kejadian muncul mata dadu 10
B = {(4,6) , (5,5) , (6,4)} sehingga n(B) = 3 dan P(B) = 3/36
karena A ∩ B = Ø maka P(A) + P(B) = 5/36 + 3/36 = 8/36 = 2/9
Cara lain :
A ∪ B = kejadian muncul jumlahmata dadu 6 atau jumlah mata dadu 10 .
A ∪ B= {(1,5) , (2,4) , (3,3) , (4,2) , (4,6) , (5,1) , (5,5) , (6,4)} sehingga n(A ∪ B) = 8
P(A ∪ B) = 8/36 = 2/9


......................

Wednesday, November 7, 2018

ALJABAR PROPOSISI


  <<< Aljabar Proposisi Bag 1
K. Konvers, Invers, dan Kontraposisi
perhatikan suatu implikasi " jika segitiga ABC sama kaki maka kedua sudut segitiga ABC alasnya sama besar".
Jika pernyataan implikasi tersebut bernilai benar, bagaimana nilai kebenaran pernyataan berikut:
      1. jika kedua sudut alas segituga ABC sama besar maka segitiga ABC sama kaki
   2. jika segitiga ABC tidak sama kaki maka kedua sudut alas segitiga ABC tidak sama besar
   3. jika kedua sudut alas segitiga ABC tidak sama besar maka segitiga ABC tidak sama kaki
Bilamana Implikasi " jika segitiga ABC samakaki maka kedua sudut segitiga ABC alasnya sama besar" disimbolkan dalam bentuk p → q maka kalimat 1,2,3 diatas dapat disimbolkan menjadi :
   1. q → p yang disebut konvers dasi implikasi p → q
   2. ~p → ~ q yang disebut invers dari implikasi p → q
   3. ~q → ~p yang disebut kontraposisi dari implikasi p → q

Hubungan antara implikasi konvers, Invers, dan kontraposisi dapat ditunjukan dengan skema berikut :
isi dengan gambar 1
sekarang perhatikan pernyataan "jika 3< 5 , maka -3 > -5". Bagaimana konvers, invers dan kontraposisi dari pernyataan tersebut.
p q p →q q → p ~p → ~q ~q → ~q
B B B B B B
B S S B B S
S B B S S B
S S B B B B
L. Tautologi dan Kontradiksi
   1. Tautologi adalah pernyataan yang selalu bernilai benar, untuk setiap nilai kebenaran komponen-komponennya.
      Contoh :{ (p →q) ∧(q → r)}→ (p →r)

{ (p         →        q)         ∧        (q         →         r)}        →         (p         →        r)
B B B B B B B B B B B
B B B S B S S B B S S
B S S S S B B B B B B
B S S S S B S B B S S
S B B B B B B B S B B
S B B S B S S B S B S
S S S B S B B B S B B
S S S B S B S B S B S
1 2 1 3 1 2 1 4 1 2 1
      Jadi pernyataan { (p →q) ∧(q → r)}→ (p →r) adalah sebuah tautologi.
   2. kontradiksi adalah pernyataan yang selalu bernilai salah, untuk setiap nilai kebenaran komponen-komponenya.
        Contoh : ~ [ {( p → q ) ∧(q → r )} → (p → r )]
~[     { (p        →        q)         ∧        (q         →         r)}        →         (p         →        r)]
S B B B B B B B B B B B
S B B B S B S S B B S S
S B S S S S B B B B B B
S B S S S S B S B B S S
S S B B B B B B B S B B
S S B B S B S S B S B S
S S S S B S B B B S B B
S S S S B S B S B S B S
5 1 2 1 3 1 2 1 4 1 2 1
Jadi, pernyatataan ~ [ {( p → q ) ∧(q → r )} → (p → r )] adalah sebuah kontradiksi.
Kesimpulan, karena sebuah tutologi selalu benar, maka negasi/peniadaan sebuah tautologi selalu salah, yakni merupakan sebuah kontrasiksi dan sebaliknya.
M. Ekivalen(Kesetaraan yang Logis)
      Dua pernyataan dikatakan ekivalen jika dua pernyataan itu mempunyai nilai kebenaran yang sama.
      Peryataan p ekivalen dengan pernyataan q dapat ditulis : " p ≡ q "
      Contoh :
      1. Apakah pernyataan ( p → q ) ∧(q → p ) ekivalen dengan pernyataan p ↔ q?
(p        →        q)         ∧        (q         →         p)       ≡        q     ↔        r
B B B B B B B B B B
B S S S S B B B S S
S B B S B S S S S B
S B S B S B S S B S
1 2 1 3 1 2 1 1 2 1
Jadi, ( p → q ) ∧(q → p ) ≡p ↔ q
      2. Apakah pernyataan p → q ekivalen dengan ~ p ∨ q?
p     →    q     ≡     ~ p     ∨     q
B B B S B B
B S S S S S
S B B B B B
S B S B B S
1 2 1 1 2 1
     Jadi p → q ≡ ~ p ∨ q
N. Peniadaan pernyataan
     1. ~(p ∧ q ) ≡~p ∨ ~q ( Hukum DeMorgan )

~    (p      ∧    q  )   ≡     ~p     ∨   ~q
S B B B S S S
B B S S S B B
B S S B B B S
B S S S B B B
3 1 2 1 1 2 1
     2. ~(p ∨q ) ≡~p ∧ ~q ( Hukum DeMorgan )
~    (p      ∨    q  )   ≡   ~p    ∧   ~q    
S B B B S S S
S B B S S S B
S S B B B S S
B S S S B B B
3 1 2 1 1 2 1
O. Hukum - Hukum Aljabar Proposisi
Hukum Indepoten
p ∨p ≡p
p ∧p ≡p
Hukum Asosiatif
(p ∨q) ∨r≡p ∨(q ∨r)
(p ∧q) ∧r≡p ∧(q ∧r)
Hukum Komutatif
p ∨q ≡q ∧ p
p ∧q ≡q ∧ p
Hukum Distributif
p ∨(q ∧r)≡( p ∨q ) ∧(p ∨r)
p ∧(q ∨ r)≡( p ∧q ) ∨(p ∧ r)
Hukum Identitas
p∨S≡p
p∧B≡p
p∨B≡B
p∧S≡S
Hukum Komplemen
p∨~p ≡B
p∧~p ≡S
~ ~p≡p
~B ≡S
~S ≡ B
Hukum DeMorgan
~(p ∨q) ≡~p ∧~q
~(p ∧q) ≡~p ∨~q

Friday, November 2, 2018

ALJABAR PROPOSISI

A. Pengertian Logika
logika adalah ilmu berpikir dan menalar dengan benar. Ditinjau dari perkembanganya logika merupakan salah satu cabang filsafat yang mempelajari aturan-aturan cara menalar yang benar

B. Pentingnya belajara Logika
belajar Logika(Logika Simbolik) dapat meningkatkan kemampuan menalar kita, karena dengan belajar logika:
  1. Kita mengenali dan menggunakan bentuk-bentuk umum tertentu dari cara penarikan konklusi yang absah, dan menghindari kesalahan-kesalahan yang biasa dijumpai
  2. Kita dapat memperpanjang rangkaian  penalaran itu untuk menyelesaikan problem-problem yang lebih komplek
Segi teoritis, belajar logika adalah tidak hanya belajar bagaimana menalar dengan benar, melainkan juga mengenal bentuk-bentuk penarikan kesimpulan yang absah( dan bentuk lainya yang tidak absah).
Dalam melakukan penalaran atau penarikan kesimpulan, kita akan menggunakan beberapa kalimat atau pernyataan dalam prosesnya
Belajar logika adalah belajar berpikir dan menalar dengan benar. Manusia belajar logika sejak jamam yunani kuno, Aristoteles(filsuf atau ahli filsafat) merintis logika tradisional yang disebut dengan analitika dan dialektika
G.W.Leibniz adalah matematikawan pertama yang mempelajari logika simbolis. Kemudian George Boole juga seorang matematikawan berhasil mengembangkan logika simbolik, sehingga logika menjadi ilmu pengetahuan yang luas dan cenderung bersifat teknis dan ilmiah(logika Modern)

C. Kalimat dan pernyataan
sebelum membahas tentang pernyataan akan kita bahas terlebih dahulu apa yang disebut kalimat.
Kalimat adalah rangkaian kata yang di susun menurut aturan tata bahasa dan mengandung arti. Dalam logika matematika hanya dibicarakan kalimat-kalimat yang berarti menerangkan(kalimat deklaratif) , yang juga disebut pernyataan.
Pernyataan adalah suatu kalimat deklaratif bernilai benar saja atau salah saja, tetapi tidak sekaligus benar dan salah.
Benar atau salahnya pernyataan disebut nilai kebenaran suatu pernyataan itu dan ditentukan oleh realitas yang dinyatakan atau kesepakatan terdahulu.
Logika yang akan kita bahas adalah logika matematik dua nilai, yaitu bernilai benar(B) atau salah(S).
Menurut jenisnya, suatu kalimat secara sederhana dapat dibagi menjadi seperti ini:

Menurut komponen-komponen yang menyusunya, pernyataan dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Pernyataan Sederhana
  2. Pernyataan Majemuk
Pernyataan yang hanya menyatakan pikiran tunggal dan tidak mengandung kata hubung kaimat disebut pernyataan sederhana atau pernyataan primer atau pernyataan atom, sedangkan pernyataan pernyataan yang terdiri dari satu atau lebih pernyataan sederhana dengan bermacam-macam kata hubung kalimat disebut pernyataan majemuk atau pernyataan komposit.
Nilai kebenaran suatu pernyataan majemuk ditentukan oleh nilai kebenaran yang setiap pernyataan sederhana  yang dikandungnya dan cara menghubungkan pernyataan –pernyataan sederhana itu, dan bukan oleh ketertarikan isi pernyataan-pernyataan sederhana tersebut. Dalam logika matematika suatu pernyataan umumnya disimbolkan dengan huruf kecil, Contoh : p, q, r,. . .  . , dan seterunya. Sedangkan nilai benar disimbolkan “B” atau “1(satu)” dan nilai salah disimbolkan dengan “S”  atau “nol(0)”.
Contoh
P: 2+3 = 5(B)
Q: Bandung  ibu kota Indonesia(S)

D. Variabel, konstanta, dan parameter
Variabel Adalah simbol yang menunjukan suatu anggota yang belum spesifik adalam semesta  pembicaraan.
Konstanta adalah simbol yang menunjukan anggota tertentu yang sudah spesifik dalam semesta pembicaraan.
Parameter adalah variabel penghubung antara beberapa variabel.
Perhatikan contoh kalimat matematika berikut :
Contoh 1:
5 + x = 7. Pada kalimat tersebut 5 dan 7 adalah konstanta , sedangkan x adalah variabel.
Contoh 2:
X = r cos t, y = r sin t, x2+y2=r2. Pada contoh tersebut x dan y adalah variabel-variabel, dan t adalah variabel penghubung antara x dan y, dan t adalah parameter, sedankan r adalah konstanta.
E. Kalimat terbuka dan kalimat tertutup
Kalimat terbuka adalah kalimat yang mengndung variabel. Jika variabel tersebut diganti dengan konstanta dalam semesta yang sesuai, maka kalimat itu akan menjadi kalimat yang bernilai benar saja atau bernilai salah saja(pernyataan). Kita juga dapat menyatakan bahwa kelimat terbuka adalah kalimat yang belum dapat ditentukan nilai kebenaranya.
Dalam matematika, kalimat terbuka bisa berbentuk persamaan(kalimat matematika yang masih menggunakan variabel dan menggunakan tanda ≠,<,>, ≥ atau ≤)
Contoh :
  1. x+3 = 9, kalimat terbuka berbentuk persamaan.
  2. x2-3 < 6, kalimat terbuka yang berbentuk pertidaksamaan
Kalimat tertutup adalah kalimat yang tidak mengadung variabel. Jadi, kita bahwa kalimat tertutup adalah kalimat yang sudah dapat ditentukan nilai kebenaranya(Benar atau Salah).
Dalam matematika, kalimat tertutup bisa berbentuk kesamaan( kalimat matematika yang tidak mengadung variabel dan menggunakan tanda “=”) atau berbentuk ketidaksamaan(kalimat matematika yang tidak mengandung variabel dan menggunakan tanda ≠,<,>, ≥ atau ≤)
Contoh :
  1. 3 + 5 = 8, kalimat tertutup yang berbentuk kesamaan, yang bernilai salah
  2. 42+3≥12, kalimat tertutup yang berbentuk ketidaksamaan, yang bernilai benar.
  3. Surabaya ibu kota jawa timur, kalimat tertutup yang bernilai benar
  4. Kerajaan singosari tertletak di jawa tengah, kalimat tertutup yang bernilai salah
Dalam logika, dikenal beberapa kata penghubung kalimat untuk membentuk pernyataan majemuk yang berasal dari satu atau lebih pernyataan sederhana.
Ada 5 macam kata penghubung dalam logika yaitu, negasi, konjungsi, disjungsi, kondisional, dan bikondisional.
Berikut masing-masing pembahasan kata hubung kalimat tersebut :

F. Negasi( Ingkaran atau penyangkalan atau peniadaan)
Negasi suatu pernyataan adalah pernyataan yang bernilai salah jika pernyataan semula benar, dan bernilai benar jika pernyataan semula bernilai salah.
Negasi pernyataan p disimbolkan dengan ~p, dan dibaca negasi p.
Contoh :
  1. P: paris ada diperancis(B)
    ~p: paris tidak ada di perancis(S)
  2. P: 2+3 = 7(S)
    ~p: 2+3≠7(B)
  3. P: candi borobudur terletak di pulau jawa(B)
  4. ~p : candi borobudur tidak terletak dipulau jawa(S)
Berdasarkan pembahasan diatas, kita dapat membuat tabel kebenaran untuk negasi sebagai berikut:

P
~p
B
S
S
B

G. Konjungsi
konjungsi adalah dua pernyataan  yang dihubungkan dengan kata “dan”  yang merupakan penyataan majemuk. Konjungsi penyataan p dan q ditulis p^q dibaca p dan q.
contoh:
1. Paris ada di Prancis dan 2+2=4
2. Paris ada di Prancis dan 2+2=5
3. Paris ada di Inggris dan 2+2=4
4. Paris ada di Inggris dan 2+2=5
Dari empat pernyataan tersebut, yang benar hanya nomer 1
Berdasarkan pembahasan diatas, kita dapat membuat tabel kebenaran untuk konjungsi sebagai berikut :

P
q p^q
B B B
B S S
S B S
S S S
H. Disjungsi
disjungsi adalah dua pernyataan yang dihubungkan dengan kata “atau” yang merupakan pernyataan majemuk. Disjungsi pernyataan p dan q ditulis p V q dibaca p atau q
Contoh :
1. Paris ada di Prancis atau 2+2=4
2. Paris ada di Prancis atau 2+2=5
3. Paris ada di Inggris atau 2+2=4
4. Paris ada di Inggris atau 2+2=5
Dari empat pernyataan tersebut yang salah hanya nomer 4
Berdasarkan pembahasan diatas, kita dapat membuat tabel kebenaran untuk disjungsi sebagai berikut:
P Q pVq
B B B
B S B
S B B
S S S

I. Kondisional( implikasi atau penyataan bersyaraat)
Kondisional adalah kalimat pernyataan yang berbentuk “ jika .... maka ...” kondisional suatu pernyataan p dan q ditulis p --> q dibaca p maka q
Contoh :
1. Jika Paris ada di Prancis, maka 2+2=4(B)
2. Jika Paris ada di Prancis,  maka 2+2=5(S)
3. Jika Paris ada di Inggris,  maka 2+2=4(B)
4. Jika Paris ada di Inggris, maka 2+2=5(B)
Dari empat pernyataan tersebut, yang salah hanya nomer 2, dan yang lainya benar. Kita dapat membuat tabel untuk kondisional sebagai berikut :
P q P → q
B B B
B S S
S B B
S S B

J. Bikondisional( Biimplikasi)
Bikondisional adalah kalimat pernyataan  yang berbentuk “ .. jika dan hanya jika ... “
Binkondisional suatu pernyataan p dan q ditulis  p <-->  q dibaca p  jika dan hanya jika q, atau p bila dan hanya bila q
Contoh :
  1. Paris ada di Prancis, jika dan hanya jika 2 + 2 = 4 (B)
  2. Paris ada di Prancis, Jika dan hanya jika 2+2 = 5(S)
  3. Paris ada di Inggris, jika dan hanya jika 2+2=4(S)
  4. Paris ada di Inggris, jika dan hanya jika 2+2=5(B)
Dari empat pernyataan tersebut, yang benar pernyataan nomer 1 dan 4, dan yang lailnya salah.
Perdasarkan pembahasan diatas, kita dapat membuat tabel kebenaran untuk bikondisional sebagai berikut :
P q p ↔ q
B B B
B S S
S B S
S S B
Aljabar Proposisi Selanjutnya>>>

Sunday, October 7, 2018

PENDIDIKAN MATEMATIKA

  Menurut  Bell (1978, h.97), tiap teori dapat dipandang sebagai suatu metoda untuk mengorganisasi serta mempelajari berbagai variabel yang berkaitan dengan belajar dan perkembangan intelektual, dan dengan demikian guru dapat memilih serta menerapkan elemen-elemen teori tertentu dalam pelaksanaan pengajaran di kelas.  Bagaimana matematika seharusnya dipelajari? Pertanyaan ini nampaknya sederhana, akan tetapi memerlukan jawaban yang tidak sederhana. Karena pandangan guru tentang proses belajar matematika sangat berpengaruh terhadap bagaimana mereka melakukan pembelajaran di kelas, maka mempelajari teori-teori yang berkaitan dengan belajar matematika harus menjadi prioritas bagi para pendidik matematika.

    Gagasan tentang belajar bermakna yang dikemukakan oleh William Brownell pada awal pertengahan abad duapuluh merupakan ide dasar dari teori konstruktivisme. Menurut Brownell (dalam Reys, Suydam, Lindquist, & Smith, 1998), matematika dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri atas ide, prinsip, dan proses sehingga keterkaitan antar aspek-aspek tersebut harus dibangun dengan penekanan bukan pada memori atau hapalan melainkan pada aspek penalaran atau intelegensi anak. Selanjutnya Reys dkk. (1998) menambahkan bahwa matematika itu haruslah make sense. Jika matematika disajikan kepada anak dengan cara yang demikian, maka konsep yang dipelajari menjadi punya arti; dipahami sebagai suatu disiplin yang terurut, terstruktur, dan memiliki keterkaitan satu dengan lainnya; serta diperoleh melalui proses pemecahan masalah yang bervariasi. Dalam NCTM Standards (1989) belajar bermakna merupakan landasan utama untuk terbentuknya mathematical connections. Untuk terbentuknya kemampuan koneksi matematik tersebut, dalam NCTM Standards (2000) dijelaskan bahwa pembelajaran matematika harus diarahkan pada pengembangan kemampuan berikut: (1) memperhatikan serta menggunakan koneksi matematik antar berbagai ide matematik, (2) memahami bagaimana ide-ide matematik saling terkait satu dengan lainnya sehingga terbangun pemahaman  menyeluruh, dan (3) memperhatikan serta menggunakan matematika dalam konteks di luar matematika.

    Selain Brownell, ahli-ahli lain seperti Piaget, Bruner, dan Dienes memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan konstruktivisme. Berdasarkan pandangan ini, pengetahuan matematik dibentuk melalui tiga prinsip dasar berikut ini.
  1. Pengetahuan tidak diterima secara pasif. Pengetahuan dibentuk atau ditemukan secara aktif oleh anak. Seperti disarankan Piaget bahwa pengetahuan matematika sebaiknya dikonstruksi oleh anak sendiri bukan diberikan dalam bentuk jadi.
  2. Anak mengkonstruksi pengetahuan matematika baru melalui refleksi terhadap aksiaksi yang dilakukan baik yang bersifat fisik maupun mental.  Mereka melakukan observasi untuk menemukan keterkaitan dan pola, serta membentuk generalisasi dan abstraksi (Dienes, 1969, h.181).
  3. Bruner (dalam Reys dkk., 1998, h. 19) berpandangan bahwa belajar, merefleksikan suatu proses sosial yang di dalamnya anak terlibat dalam dialog dan diskusi baik dengan diri mereka sendiri maupun orang lain termasuk guru sehingga mereka berkembang secara intelektual.

   Prinsip ini pada dasarnya menyarankan bahwa anak sebaiknya tidak hanya terlibat dalam  manipulasi material, pencarian pola, penemuan algoritma, dan menghasilkan solusi yang berbeda, akan tetapi juga dalam mengkomunikasikan hasil observasi mereka, membicarakan adanya keterkaitan, menjelaskan prosedur yang mereka gunakan, serta memberikan argumentasi atas hasil yang mereka peroleh.  Jelaslah bahwa prinsip-prinsip di atas memiliki implikasi yang signifikan terhadap pembelajaran matematika. Prinsip-prinsip tersebut juga mengindikasikan bahwa konstruktivisme merupakan suatu proses yang memerlukan waktu serta merefleksikan adanya sejumlah tahapan perkembangan dalam memahami konsepkonsep matematika. Menurut Vygotsky (dalam John dan Thornton, 1993), proses peningkatan pemahaman pada diri siswa terjadi sebagai akibat adanya pembelajaran. Diskusi yang dilakukan antara guru-siswa dalam pembelajaran, mengilustrasikan bahwa interaksi sosial yang berupa diskusi ternyata mampu memberikan kesempatan pada siswa untuk mengoptimalkan proses belajarnya. Interaksi seperti itu memungkinkan guru dan siswa untuk berbagi dan memodifikasi cara berfikir masing-masing. Selain itu terdapat juga kemungkinan  bagi sebagian siswa untuk menampilkan argumentasi mereka sendiri serta bagi siswa lainnya memperoleh kesempatan untuk mencoba menangkap pola berfikir siswa lainnya. Episode seperti ini, diyakini akan dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman tentang obyek yang dipelajari dari tahap sebelumnya ke tahapan yang lebih tinggi. Proses yang mampu menjembatani siswa pada tahapan belajar yang lebih tinggi seperti ini menurut Vygotsky (1978) disebut sebagai zone of proximal development (ZPD).

   Menurut Vygotsky, belajar dapat membangkitkan berbagai proses mental tersimpan yang hanya bisa dioperasikan manakala seseorang berinteraksi dengan orang dewasa atau berkolaborasi dengan sesama teman. Pengembangan kemampuan yang diperoleh melalui proses belajar sendiri (tanpa bantuan orang lain) pada saat melakukan pemecahan masalah disebut sebagai actual development, sedangkan perkembangan yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi dengan guru atau siswa lain yang mempunyai kemampuan lebih tinggi disebut potential development. Zone of proximal development selanjutnya diartikan sebagai jarak antara actual development dan potential development.

   Vygotsky (dalam John dan Thornton, 1993) selanjutnya menjelaskan bahwa proses belajar terjadi pada dua tahap: tahap pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya dilakukan secara individual  yang di dalamnya terjadi proses internalisasi. Selama proses interaksi terjadi baik antara guru-siswa maupun antar siswa, kemampuan berikut ini perlu dikembangkan: saling menghargai, menguji kebenaran pernyataan fihak lain, bernegosiasi, dan saling mengadopsi pendapat yang berkembang.

   Selain adanya tahapan perkembangan dalam memahami konsep-konsep matematika, terdapat juga tahapan perkembangan dalam kaitannya dengan intelektual atau kognitif anak seperti yang dikemukakan oleh Piaget, Bruner, dan Dienes. Sekalipun tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh mereka masing-masing berbeda, akan tetapi kerangka dasar yang dikemukakan ketiganya pada prinsipnya adalah sama. Menurut Piaget perkembangan intelektual anak mencakup empat tahapan yaitu sensori motor, preoperasi, operasi kongkrit, dan operasi formal. Selain itu, Piaget (dalam Bell, 1978) juga menyatakan bahwa perkembangan intelektual anak merupakan suatu proses asimilasi dan akomodasi informasi ke dalam struktur mental. Asimilasi adalah suatu proses dimana informasi atau pengalaman yang diperoleh seseorang masuk ke dalam struktur mentalnya, sedangkan akomodasi adalah terjadinya restrukturisasi dalam otak sebagai akibat adanya informasi atau pengalaman baru. Piaget selanjutnya menjelaskan bahwa perkembangan mental seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni kematangan, pengalaman fisik, pengalaman matematis-logis, transmisi sosial (interaksi sosial), dan keseimbangan.

    Bruner mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak itu mencakup tiga tahapan yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Pada tahap enaktif, anak biasanya sudah bisa melakukan manipulasi, konstruksi, serta penyusunan dengan memanfaatkan bendabenda kongkrit. Pada tahap ikonik, anak sudah mampu berfikir representatif yakni dengan menggunakan gambar atau turus. Pada tahap ini mereka sudah bisa berfikir verbal yang didasarkan pada representasi benda-benda kongkrit. Selanjutnya pada tahap simbolik, anak sudah memiliki kemampuan untuk berfikir atau melakukan manipulasi dengan menggunakan simbol-simbol.

    Sementara itu Dienes berpandangan bahwa belajar matematika itu mencakup lima tahapan yaitu bermain bebas, generalisasi, representasi, simbolisasi, dan formalisasi. Pada tahap bermain bebas anak biasanya berinteraksi langsung dengan benda-benda kongkrit sebagai bagian dari aktivitas belajarnya. Pada tahap berikutnya, generalisasi, anak sudah memiliki kemampuan untuk mengobservasi pola, keteraturan, dan sifat yang dimiliki bersama. Pada tahap representasi, anak memiliki kemampuan untuk melakukan proses berfikir dengan menggunakan representasi obyek-obyek tertentu dalam bentuk gambar atau turus. Tahap simbolisasi, adalah suatu tahapan dimana anak sudah memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol matematik dalam proses berfikirnya. Sedangkan tahap formalisasi, adalah suatu tahap dimana anak sudah memiliki kemampuan untuk memandang matematika sebagai suatu sistem yang terstruktur. Berdasarkan pandangan yang dikemukakan oleh Piaget, Bruner, dan Dienes di atas, dapat diperoleh hal-hal berikut ini.

  1. Anak dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar dan kesempatan untuk mengemukakan ide-ide mereka merupakan hal yang sangat esensial dalam proses tersebut.
  2. Terdapat sejumlah karakteristik dan tahapan berfikir yang teridentifikasi dan dapat dipastikan bahwa anak melalui tahapan-tahapan tersebut.
  3. Belajar bergerak dari tahapan yang bersifat kongkrit ke tahapan lain yang lebih abstrak.
  4. Kemampuan untuk menggunakan simbol serta representasi formal secara alamiah berkembang mulai dari tahapan yang lebih kongkrit.

      Pengajaran yang efektif antara lain ditandai dengan keberhasilan anak dalam belajar. Dengan demikian untuk berhasilnya pengajaran matematika, pertimbanganpertimbangan tentang bagaimana anak belajar merupakan langkah awal yang harus diperhatikan. Dalam upaya untuk melakukan hal tersebut, diperlukan beberapa  prinsip dasar seperti yang akan dibahas di bawah ini. Prinsip-prinsip tersebut  merupakan implikasi dari teori belajar yang telah dikemukakan sebelumnya.

Siswa Terlibat Secara Aktif 
 Prinsip ini berlandaskan pada pandangan bahwa keterlibatan anak secara aktif dalam suatu aktivitas belajar memungkinkan mereka memperoleh pengalaman yang mendalam tentang bahan yang dipelajari, dan pada ahirnya akan mampu meningkatkan pemahaman anak tentang bahan tersebut. Sebagaimana pepatah cina yang menyatakan bahwa ”Saya mendengar dan saya lupa; saya melihat dan saya ingat; serta saya mencoba dan saya mengerti”, mengisyaratkan bahwa keterlibatan secara aktif merupakan hal yang sangat penting dalam membangun pemahaman tentang sesuatu yang dipelajari. Keterlibatan siswa secara aktif bentuknya bisa secara fisik, dan yang lebih penting lagi secara mental. Bentuk-bentuk aktivitasnya antara lain bisa berupa interaksi siswa-siswa atau siswa-guru, memanipulasi benda-benda kongkrit seperti alat peraga, dan menggunakan bahan ajar tertentu seperti buku dan alat-alat teknologi.

Memperhatikan Pengetahuan Awal Siswa 
  Karena sifat matematika yang merupakan suatu struktur yang terorgani-sasikan dengan baik, maka pengetahuan prasyarat siswa merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran matematika. Pendekatan spiral yang dikembangkan dalam pengajaran matematika, merupakan langkah tepat untuk memberi kesempatan kepada anak mengembangkan pengetahuannya secara bertahap baik horizontal maupun vertikal. Dengan memperhatikan pengetahuan awal siswa, guru diharapkan mampu menyusun strategi pembelajaran lebih tepat yang meliputi penyiapan bahan ajar, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, serta penyiapan alat evaluasi yang sesuai.

Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Siswa
 Salah satu syarat untuk berkembangnya kemampuan interaksi antara satu individu dengan individu lainnya adalah berkembangnya kemampuan komunikasi. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kemampuan tersebut antara lain adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan dan berargumentasi secara lisan atau tertulis, mengajukan atau menjawab pertanyaan, dan berdiskusi baik dalam kelompok kecil maupun kelas.

Mengembangkan Kemampuan Metakognisi Siswa 
   Metakognisi adalah suatu istilah yang berkaitan dengan apa yang diketahui seseorang tentang individu yang belajar dan bagaimana dia mengontrol serta menyesuaikan prilakunya. Selain itu, metakognisi juga merupakan bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. Dengan kemampuan seperti ini maka siswa dimungkinkan mengembangkan kemampuannya secara optimal dalam belajar matematika, karena dalam setiap langkah yang dia kerjakan senantiasa muncul pertanyaan seperti: “Apa yang saya kerjakan?”, “Mengapa saya mengerjakan ini?”, “Hal apa yang bisa membantu saya menyelesaikan masalah ini?”

Mengembangkan Lingkungan Belajar yang Sesuai 
 Lingkungan belajar hendaknya diciptakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam belajar. Terciptanya lingkungan belajar yang baik dapat membantu siswa dalam mencapai perkembangan potensialnya seperti yang dikemukakan oleh Vygotsky.   Selain beberapa prinsip di atas, berdasarkan teori Vygotsky, diperoleh tiga hal utama yang berkaitan dengan pembelajaran yakni:
  1. pembelajaran efektif mengarah pada perkembangan,
  2. pembelajaran efektif akan berhasil dikembangkan melalui setting pemecahan masalah, dan
  3. pembelajaran efektif berfokus pada upaya membantu siswa untuk mencapai potential development mereka.

Untuk mencapai pembelajaran efektif tersebut maka beberapa saran berikut nampaknya penting untuk diperhatikan:
  1. Tingkatkan sensitivitas bahwa siswa terlibat secara aktif dalam setting belajar yang dikembangkan
  2. Ciptakan problem solving interaktif yang mengarah pada proses belajar
  3. Sajikan soal-soal yang bersifat menantang
  4. Gunakan ongoing assessment untuk memonitor pembelajaran
  5. Ciptakan kesempatan bagi siswa untuk menampilkan kemampuan berfikir tingkat tingginya
  6. Beri dorongan serta kesempatan pada siswa untuk menampilkan berbagai solusi serta strategi berbeda pada penyelesaian suatu masalah
  7. Tingkatkan komunikasi, yakni dengan mendorong siswa untuk memberikan penjelasan serta jastifikasi pemikiran mereka
  8. Gunakan berbagai variasi strategi mengajar dan belajar
  9. Upayakan untuk menelusuri hal-hal yang belum diketahui siswa sehingga guru mampu membantu proses peningkatan potensial mereka.

Dalam kajiannya tentang implikasi pandangan konstruktivisme untuk pencapaian hasil belajar dalam matematika, Burton (1992) mengajukan suatu model pengimplementasian kurikulum yang memuat tiga dimensi yakni dimensi silabi, pedagogi, dan evaluasi. Dalam model ini, silabi dimaknai sebagai sesuatu yang diharapkan tercapai oleh kurikulum, pedagogi adalah cara yang digunakan dalam proses pembelajaran, sedangkan evaluasi adalah rangkaian strategi yang digunakan guru, siswa, atau fihak lain untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar yang sudah dicapai. Akar epistimologis dari interpretasi konstruktivis terhadap pembelajaran matematika, juga merupakan hal yang sangat penting dalam pengembangan model pembelajaran matematika.

    Dalam hal ini, Barbin (1992) mengemukakan bahwa terdapat dua kemungkinan konsepsi yang bisa muncul yakni pengetahuan matematika dipandang sebagai produk dan proses. Dalam konsepsi pertama, matematika dipandang sebagai suatu sistem yang sudah baku dan siap pakai, sedangkan konsepsi kedua lebih menitik beratkan pada matematika sebagai suatu aktivitas (mathematical activity). 

sumber : 
https://iillmu.blogspot.com/2017/09/pembelajaran-matematika-masa-kini.html?showComment=1538939663833#c7930993107764813875

Friday, July 13, 2018

Hubungan Pemrograman dengan Matematika

Menurut pendapat Fathani  (2016: 19), ada beberapa bidang yang dapat dimasuki oleh seorang matematikawan, salah satunya adalah bidang pemrograman. Pemrograman adalah bidang yang sudah lama berkembang seiring perkembangan di bidang elektronika, terutama komputasi. Orang sering kali berpikir kalau pemrograman tidak berhubungan dengan matematika dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang berkecimpung di bidang teknik, seperti elektronika dan komputasi. Padahal pemrograman sangat mengandalkan keteraturan berpikir yang sangat khas dengan matematika.

Pemrograman pada dasarnya adalah aplikasi praktis dari salah satu bidang dasar matematika, yaitu aljabar (Fathani, 2009: 92). Inilah yang sering kali tidak disadari, apalagi aljabar biasanya adalah bidang yang sering kali dihindari. Aplikasi aljabar yang umum dikenal dalam masalah pengodean suatu pesan berupa huruf, angka, atau simbol ke dalam bentuk biner, sehingga bisa didefinisikan oleh aliran listrik.

Matematika

Matematika adalah sebuah mata pelajaran yang bersifat abstrak tetapi selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari (Fowler dalam Muslich dalam Winarni dalam Hilda Nur Aulia 2015: 2). Matematika memegang peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Fungsinya sangat bermacam-macam, mulai dari yang sederhana yaitu berhitung, yang terdiri dari pertambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, mengukur, yang terdiri dari luas, volume, dan berat, juga sebagai ukuran mata uang, waktu, tanggal, sehingga hampir semua kegiatan manusia membutuhkan matematika.

Menurut Suherman dalam Dzikron (2011: 34) salah satu fungsi matematika sekolah adalah sebagai alat untuk memecahkan masalah dalam mata pelajaran lain, dalam dunia kerja, atau dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, belajar matematika bagi para siswa juga merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan (koneksi) di antara pengertian-pengertian itu.

Sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, matematika merupakan mata pelajaran yang wajib ditempuh oleh setiap peserta didik. Tujuan mempelajari matematika adalah untuk memberikan kemampuan penalaran dan pembentukan sikap peserta didik serta memberikan ketrampilan dalam penerapan matematika. Pembelajaran matematika di perguruan tinggi bukan hanya menghafal atau menerapkan secara sederhana rumus matematika yang telah diketahui saja, namun memerlukan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi yang akan bermanfaat untuk diri mahasiswa. Salah satu bagian dari kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi adalah kemampuan pemecahan masalah matematis yang merupakan suatu alat yang penting untuk matematika dan kehidupan sehari-hari. Dengan membekali mahasiswa dengan kemampuan pemecahan masalah matematis yang baik diharapkan mahasiswa dapat menggunakannya untuk menyelesaikan berbagai masalah (masalah matematis maupun masalah dalam kehidupan sehari-hari) yang dihadapi baik saat masih menjadi mahasiswa ataupun setelah lulus nantinya.

Begitu pula Awodun, dkk. (2013: 391) juga berpendapat bahwa matematika merupakan pondasi dari ilmu pengetahuan dan teknologi, berikut adalah kutipannya:

Without Mathematics, there is no science and without science there is no modern technology and without modern technology there is no modern society. In other words, mathematics is the precursor and the Queen of science and technology and the indispensable single element in modern societal development.

Artinya, tanpa matematika, tidak ada ilmu pengetahuan dan tanpa ilmu pengetahuan tidak ada teknologi modern dan tanpa teknologi modern tidak ada masyarakat modern. Dengan kata lain, matematika adalah pelopor dan induk bagi ilmu pengetahuan dan teknologi dan elemen tunggal yang sangat diperlukan dalam pembangunan masyarakat yang modern.

Sunday, March 25, 2018

Makalah Balok | Bangun Ruang Sisi Datar

Makalah Matematika SMP Bangun Ruang Sisi Datar (Balok) Jika menginginkan file dalam format MsWord bida di download disini

Saturday, March 24, 2018

MAKALAH LINGKARAN

Makalah Matematika Lingkaran Jika menginginkan file dalam format MsWord bida di download disini

Saturday, January 3, 2015

Sejarah Matematika dan Perkembangannya

        
Matematika adalah alat yang dapat membantu memecahkan berbagai permasalahan (dalam pemerintahan, industri, sains). Dalam perjalanan sejarahnya, matematika berperan membangun peradaban manusia sepanjang masa.

    Metode yang digunakan adalah eksperimen atau penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah penarikan kesimpulan setelah melihat kasus-kasus yang khusus. Kesimpulan penalaran induktif memiliki derajat kebenaran barangkali benar atau tidak perlu benar.

    Penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan dari hal-hal yang umum ke hal yang khusus. Kebenaran dalam penalaran deduktif adalah yakin benar atau pasti benar asalkan asumsi yang mendasarinya juga benar.

    Filsafat Matematika


   Kata Filsafat  memiliki pengertian adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat sesuatu. Pakar filsafat disebut filsuf, dan adjektifnya filosofi. Setiap filsuf memiliki definisi sendiri-sendiri. Tidak bertentangan tetapi sering saling melengkapi dan ini menunjukkan luasnya bidang persoalan dalam filsafat. Empat hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat: ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya, dan keraguan. Sifat dasar filsafat adalah: berpikir radikal, mencari asas, memburu kebenaran, mencari kejelasan, dan berpikir rasional. Peranan filsafat adalah sebagai pendobrak, pembebas, dan pembimbing. Aristoteles membagi filsafat ke dalam filsafat teoretis, praktis, dan produktif. Filsuf yang lain membagi filsafat dengan cara lain pula. Epistemologi adalah cabang filsafat yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan. Pokok persoalan epistemologi adalah sumber, asal mula, sifat dasar, bidang, batas, jangkauan, dan validitas serta reliabilitas ilmu pengetahuan. Ontologi adalah cabang filsafat yang membahas segala sesuatu secara menyeluruh. Pembahasan apa yang tampil dan apa yang realita. Tiga teori dalam ontologi adalah: idealisme, materialisme, dan dualisme.

    Filsafat dari berbagai bidang ilmu: misalnya filsafat politik, ekonomi, bahasa, pendidikan, matematika, hukum, dan sebagainya.

    Filsafat matematika dan filsafat umum dalam sejarahnya adalah saling melengkapi. Filsafat matematika bersangkut paut dengan fungsi dan struktur teori-teori matematika. Teori-teori itu terbebas dari asumsi-asumsi atau metafisik.

    Filsuf matematika yang dikenalkan di sini adalah Pythagoras, Plato, Aristoteles, Leibniz, dan Kant. Doktrin Pythagoras antara lain bahwa fenomena yang tampak berbeda dapat memiliki representasi matematis yang identik (cahaya, magnet, listrik – sebagai getaran – dapat memiliki persamaan diferensial yang sama). Aristoteles menekankan, menemukan ‘dunia permanen’ merupakan realita daripada ‘apa yang tampak’. Aristoteles lebih menekankan pada ‘absraksi’ daripada ‘apa yang tampak’. Leibniz dan Kant menekankan pada proposisi matematis.

    Filsafat Pendidikan Matematika


    Filsafat pendidikan adalah pemikiran-pemikiran filsafat tentang pendidikan. Dapat mengonsentrasikan pada proses pendidikan, dapat juga pada ilmu pendidikan. Jika mengutamakan proses pendidikan, yang dipersoalkan adalah cita-cita, bentuk, metode, dan hasil dari proses pendidikan. Jika mengutamakan ilmu pendidikan maka yang menjadi pusat perhatian adalah konsep, ide, dan metode pengembangan dalam ilmu pendidikan. Filsafat pendidikan matematika termasuk filsafat yang membahas proses pendidikan dalam bidang studi matematika. Aliran-aliran yang berpengaruh dalam filsafat pendidikan antara filsafat analitik, progesivisme, eksistensialisme, rekonstruksionisme, dan konstruktivisme.

    Pendidikan matematika adalah bidang studi yang mempelajari aspek-aspek sifat dasar dan sejarah matematika, psikologi belajar dan mengajar matematika, kurikulum matematika sekolah, baik pengembangan maupun penerapannya di kelas.

    Filsafat konstruktivisme banyak mempengaruhi pendidikan matematika sejak tahun sembilan puluhan. Konstruktivisme berpandangan bahwa belajar adalah membentuk pengertian oleh si belajar. Jadi siswa harus aktif. Guru bertindak sebagai mediator dan fasilitator.

    Budaya yang paling menonjol dapat dikatakan sebagai ciri khas budaya suatu bangsa. Ciri khas bangsa Yunani kuno adalah ide-ide idealnya, bangsa Romawi dengan budaya politik, militer dan suka menaklukkan bangsa lain. Bangsa Mesir kuno dengan seni keindahan dan juga mistik. Tahun 600 – 1200 ciri khas budaya bangsa Eropa adalah teologis. Tahun 1200 – 1800 budaya bangsa Eropa mulai eksplorasi alam sebelum revolusi industri. Abad ke-19, dan 20 penciptaan mesin-mesin otomatis berbarengan dengan kemajuan dalam bidang sains dan matematika.

    Bangsa-bangsa Babilonia, Mesir, Sumeria dapat dipandang sebagai matematika empiris. Nama ini berkaitan dengan perkembangan matematika yang selalu untuk memenuhi keperluan dalam perdagangan, pengukuran, survei, dan astronomi. Dengan kata lain matematika diangkat dari pengalaman manusia bergelut dengan masalah-masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun demikian matematika empiris ini telah mengantisipasi datangnya matematika non-empiris seperti telah digunakannya bilangan negatif, dan sistem bilangan alam atau asli yang menuju ketakhingga.

    Kontribusi paling menonjol bangsa Yunani terhadap perkembangan matematika terletak pada dipilihnya metode deduktif dan kepercayaannya bahwa fenomena alam dapat disajikan dalam lambang-lambang bilangan. Dan ini terbukti sekarang telah ditemukan alat-alat elektronik digital.

    Bangsa Eropa sendiri baru belakangan tertarik pada matematika. Selama 1000 tahun matematika berkembang di Asia kecil (Yunan, Arab). Tahun 400 – 120 perkembangan matematika dapat dikatakan mandek, hanya beberapa gelintir orang mengembangkan secara individual (tanpa ada komunikasi satu sama lain), di antara mereka adalah Boethius, Alcuino, dan Gerberet, dan yang paling akhir Leonardo Fibonacci.

    pusat perkembangan matematika berada di Eropa.

    Matematika Kontemporer (1850 – Sekarang)
    Aritmetika memiliki peran ganda: sebagai alat bantu sains dan perdagangan, dan sebagai uji komparatif landasan dasar tempat sistem matematika itu dibangun. Hogben, Well, dan McKey dan lain-lain telah melukiskan peran aritmetika dengan indahnya.

    Perkembangan kalkulasi yang paling spektakuler adalah diciptakannya “otak elektronik”, komputer. Komputer lebih banyak memerlukan matematika daripada aritmetika elementer. Penciptaan komputer memerlukan kolaborasi para pakar matematika, aritmetika, dan ahli teknik pakar mesin.

    Pada abad 20 perkembangan aritmetika makin abstrak dan tergeneralisasi. Perkembangannya mengacu pada aljabar dan analisis guna lebih “mengeraskan” aritmetika. Sebaliknya yang terakhir ini disebut “arimetisasi”

    Abstraksi dan generalisasi pada abad 20 telah diantisipasi oleh Lobachevsky dengan munculnya geometri non-euclidnya. Selanjutnya pakar-pakar lain seperti Peacock, Gregory, DeMorgan, memandang aljabar dan geometri sebagai “hipothetico-deductive” dengan cara Euclid.

    Dengan kritikan tajam oleh Cantor, Dedekind, dan Weirstrass terhadap sifat-sifat sistem bilangan (seperti faktorisasi, habis dibagi dan sebagainya) pada tahun 1875, pada tahun 1899 Hilbert muncul dengan “metode postulatsional”. Dengan demikian, dari pandangan ini, bilangan, titik, garis dan sebagainya adalah abstrak murni, tidak mempunyai kaitan dengan benda fisik. Akhirnya Peano berjaya menjelaskan bahwa sistem bilangan 1, 2, 3, . . . dapat diperluas (dalam arti dapat “menghasilkan”) sistem bilangan bulat, rasional, real, dan kompleks hanya melalui postulat pada bilangan alam.

    Permasalahan terakhir adalah masalah “landasan” atau “pondasi” matematika atas mana struktur matematika itu dibentuk.

    Matematika yang telah berkembang selama dua ribu lima ratus tahun oleh generasi ke generasi, ternyata dapat diajarkan kepada anak-anak “hanya” dalam beberapa tahun di sekolah. Oleh karena itu, Prof Judd (psikolog) mengatakan bahwa aritmetika adalah kreasi manusia paling perfect (sempurna) dan alat untuk berkomunikasi sesama manusia. Dengan demikian matematika perlu dijaga dan dikembangkan untuk mengantarkan manusia menyongsong hari esok yang cerah.

    Perkembangan Matematika


    Perkembangan matematika dilihat dari produktivitas baik kuantitatif maupun kualitatif dari waktu ke waktu makin meningkat dan sangat cepat. Perbandingan ini dikaitkan dengan skala waktu. Perbandingan produktivitas terhadap skala waktu, secara kuantitatif dapat digambarkan mendekati secara eksponensial pertumbuhan biologis.

    Ada dua macam pembagian mengikuti waktu atau periode perkembangan. Yang pertama, pembagian waktu ke dalam tiga periode, yakni, “dahulu”, “pertengahan”, dan “sekarang”. Pembagian ini berdasarkan pertumbuhan matematika sendiri dan daya tahan hidup sesuai zamannya. Yang kedua, pembagian menurut cara konvensional dalam tujuh skala waktu menurut penemuan naskah yang dapat dihimpun, yakni (1) Babilonia dan Mesir Kuno, (2) Kejayaan Yunani (600 SM – 300), (3) Masyarakat Timur dekat (sebagian sebelum dan sebagian lagi sesudah (2)), (4) Eropa dan masa Renaissance, (5) Abad ke-17, (6) Abad ke-18 dan 19, dan (7) Abad ke-20. Pembagian ini mengikuti perkembangan kebudayaan Eropa.

    Setiap periode, baik yang membagi menjadi 3 atau pun 7, memiliki ciri khas yang umum. Pada periode “dahulu”, ciri khasnya adalah empiris, mendasarkan pada pengalaman (indera) hidup manusia. Periode “pertengahan” mulai dengan analisis (Descartes, Newton, Leibniz, Galileo), sedangkan pada periode “sekarang” ciri khasnya adalah metode abstraksi dan generalisasi. Ternyata perkembangan matematika dilihat dari kualitas dan kekuatannya jauh lebih penting daripada dilihat secara kuantitas. Ingatlah akan definisi matematika yang mengatakan “matematika adalah cara berpikir dan bernalar”, lihat Modul 1. Sedang kekuatannya, misalnya, lihatlah geometri Euclid dibanding dengan geometri non-euclid, yang terakhir ini mampu menyelesaikan masalah lebih rumit (geometri non-euclid digunakan dalam mengembangkan teori relativitas dalam ilmu fisika)

    Walaupun demikian kadang-kadang korelasi antara perkembangan matematika dan kebudayaan kadang-kadang korelasi itu negatif.

    Perkembangan Matematika Sesudah Renaissance

    Masing-masing dari 7 periode terdapat peningkatan kematangan yang signifikan, namun juga terdapat keterbatasannya. Pada periode Yunani, matematika masih bersifat empiris. Pada abad ke-17, kekurangan itu diperbaiki dengan munculnya geometri analitik, proyektif, dan diferensial pada abad berikutnya. Revitalisasi diperlukan agar pertumbuhan matematika makin berkembang dan dapat digunakan dalam ilmu lainnya. Yang terakhir muncul geometri baru (non-euclid) dan menyingkirkan geometri euclid (lama).

    Dalam periode terakhir, daerah jelajah matematika makin luas. Beberapa cabang menjadi terlepas dari induknya dan menjadi otonom. Beberapa di antaranya diserap dalam wadah yang lebih besar, misalnya analisis telah menggeneralisasi geometri. Pelarian dan penangkapan kembali ini mengilhami para matematikawan untuk merangkum kembali seluruh matematika. Awal abad ke-20 dipercayai unifikasi akan dicapai melalui logika matematis (Bertrand Russell). Ternyata harapan ini sia-sia dan terlepas.

    Motivasi yang melatar-belakangi perkembangan matematika semula diperkirakan ekonomi. Penelitian lebih mendalam ternyata tidak demikian. Latar belakang ekonomi benar untuk matematika praktis yang diterapkan pada perdagangan, asuransi, sains, dan teknologi. Namun perkembangan matematika dapat dimotivasi oleh agama (mistik), kuriositas intelektual, bahkan hanya untuk ‘makanan’ para pakar matematika. Bagi para pakar matematika ‘murni’ tidak ada tujuan apa pun terkecuali untuk mengembangkan teorinya yang rigor, tanpa memikirkan apakah kelak berguna atau tidak (baca lagi sisa-sisa zaman).

    Banyak matematika yang telah dikembangkan begitu sulit oleh para pekerja matematika, namun hasilnya terkubur begitu saja. Setiap zaman meninggalkan hasil-hasil yang rinci. Sebagian hanya menarik bagi sejarawan matematika. Jadi hasil-hasil karya setiap zaman dapat saja terkubur, tetapi tidak perlu mati. Dan pekerja yang sudah bersusah-payah ini memang tidak perlu sia-sia.

    Berpikir Matematis


    Persyaratan Aksioma dalam Sistem Matematis

    Sejak awal perkembangannya sampai kira-kira abad ke-16, matematika tidak pernah mengenal kreasi matematika baru, sehingga orang mengatakan matematika adalah statis. Tetapi pendapat ini menjadi tidak benar sebab setelah abad ke-17, Descartes menemukan geometri analitik. Lebih-lebih setelah Bolyai dan Lobachevsky menemukan geometri non-euclid. Ini memicu tumbuhnya metode postulatsional atau metode aksiomatis pada abad ke-19. Pemunculan metode ini dipandang sebagai fajar menyingsing perkembangan matematika. Mulai saat itu, hampir setiap hari dikreasi matematika baru.

    Euclid, guru besar di Aleksandria, Mesir, setelah zaman Aristoteles, menulis buku geometri secara aksiomatis. Namun perangkat aksioma buatan Euclid masih kurang rigor (tajam). Kurang rigor-nya ini disebabkan diberinya definisi term-term penyusun aksioma. Contoh: Melalui dua titik yang berlainan hanya terdapat satu garis lurus yang menghubungkan keduanya. Kemudian ia mendefinisikan: titik adalah sesuatu tidak memakan tempat. Pembuka jalan metode aksiomatis adalah Bolyai dan Lobachevsky dalam buku mereka geometri non-euclid. Tetapi yang dianggap pelopornya adalah Peano dan More dari Amerika Serikat, sedangkan Hilbert yang paling berpengaruh.

    Sebuah sistem matematika diawali dengan perangkat aksioma. Sejak awal abad ke-19 dikehendaki adanya persyaratan baku untuk suatu perangkat aksioma.

    Persyaratan ini adalah konsistensi, independensi, dan kategoris. Agar syarat-syarat rigor dipenuhi, banyaknya term tak didefinisikan harus diminimalkan.

    Perangkat aksioma dikatakan konsisten jika tidak ada jalan logis yang mendeduksi kontradiksi di antara proposisi-proposisi yang dihasilkan. Dikatakan independen jika setiap proposisi dalam perangkat aksioma tidak dapat dideduksi dari proposisi-proposisi lainnya dalam perangkat itu. Dikatakan kategoris jika dapat dibentuk isomorphisma dari himpunan-himpunan yang disajikan secara aktual dari perangkat aksioma.

    Peran Logika dalam Sistem Matematika


    Pythagoras mengusulkan adanya konsep untuk ‘bukti’ yang baku dan jelas dan disetujui oleh semua pakar. Aristoteles menyusun hukum dasar logika yang pertama kali. Ternyata hukum dasar itu identik dengan perangkat aksioma. Term tak didefinisikan dalam aksioma disebut kata primitif dalam logika. Dengan sistem aksioma dalam geometri Euclid, diubah oleh Lobachevsky dan Bolyai, maka kemudian ada maksud mengembangkan logika modern. Russell dan Whitehead telah berhasil menyusun membangun hukum dasar logika modern. Dalam sistemnya mereka memasukkan kata-kata atau, dan, negasi dan sebagainya. Hukum dasar Aristoteles dipandang hanya berlaku untuk semesta tertentu. Hukum dasar logika modern bersifat semesta. Artinya semua matematika dan sains dapat menggunakan hukum dasar logika modern guna menarik kesimpulan, dan tidak tergantung jenis logika yang digunakan. Ternyata baik aksioma matematika maupun hukum dasar logika adalah variabel. Lucasiewics berjaya menyusun sistem logika modern. Keuntungannya tidak perlu lagi menggunakan tabel-tabel matriks nilai kebenaran untuk setiap kemungkinan nilai kebenaran komponennya. Dan dapat langsung untuk sebarang nilai kebenaran komponen-komponennya.

    Russell menganggap matematika adalah cabang logika (logistik), Hilbert memandang logika adalah cabang matematika (formalis). Brouwer tidak menyetujui kedua-duanya dan mengatakan setiap keberadaan matematika harus ada jalan mengkonstruksinya (intuisionis). Ini yang kemudian menjadikan suasana bimbang dan tidak pasti.

    Sifat Kebenaran Matematika


    Teori sains empiris, misalnya fisika atau psikologi, dikatakan benar sejauh teori itu cocok dengan bukti empiris atau kenyataan luar. Matematika tidak demikian. Kebenaran matematika tidak ada sangkut pautnya dengan bukti empiris. Kebenaran matematika diperoleh dari makna kata-kata yang terkandung dalam proposisi yang bersangkutan.

    Karena dalam sistem matematika diawali dengan perangkat aksioma dan teori-teori matematika diturunkan secara logis (dengan perangkat logika yang telah ditetapkan) dari aksioma, kebenaran matematika disebut kebenaran kondisional.

    Kebenaran perangkat aksioma bukanlah self-evident truth, dan bukan pula sains empiris paling umum. Kebenaran matematika adalah kebenaran apriori, sedangkan kebenaran sais empiris adalah postteori yakni teori itu benar selama masih cocok dengan fakta aktual, atau sampai ada bukti lain yang menolaknya.

    Sistem Aksioma Peano sebagai Basis Matematika

    Aksioma Peano adalah sebuah contoh sistem aritmetika postulatsional. Aksioma Peano sangat mengagumkan. Perangkat aksioma ini terdiri dari 5 postulat dengan definisi rekursif (maju atau mundur) bilangan-bilangan alam, misalnya 4 = 3´ = (2´ )´ = ((1´ )´ )´ = (((0´ )´ )´ )´ ,. Atau 0´ = 1, 1´ = 2, 2´ = 3, dst. P4 membatasi bahwa setelah bilangan 0 tidak dapat mundur lagi. Dengan menambahkan definisi jumlah D1(a), (b) dan definisi kali D2(a) dan (b), maka dapat dibuktikan sifat-sifat operasi assosiatif, komutatif, dan distributif untuk kedua operasi yang didefinisikan.

    Dengan mendefinisikan bilangan positif, negatif, rasional, dan kompleks dengan cara-cara yang sesuai hanya dengan mengambil term-term primitif yang termuat dalam aksioma, semua sistem bilangan memenuhi aksioma. Demikian pula fungsi aljabar seperti fungsi kontinu, limit, kalkulus dsb. Dengan hasil ini maka dikatakan bahwa aksioma Peano merupakan basis matematika.

    Kebenaran Konsep-konsep dalam Matematika

    Aksioma Peano memuat tiga term tak didefinisikan: ’0′, ‘bilangan’, dan ‘pengikut’ dan 5 buah aksioma. Term-term tak didefinisikan dapat diberi makna biasa, dan secara teoretis dalam takhingga cara. Tetapi makna biasa ini harus mengubah kelima aksioma menjadi proposisi-proposisi yang bernilai benar. Selanjutnya dapat diciptakan definisi kata-kata baru dari term-term yang telah diberi makna biasa itu. Syaratnya definisi ini harus menjadi proposisi yang bernilai benar. Dari definisi dan aksioma dalam makna biasa akan diperoleh teori-teori melalui deduksi logis. Dengan demikian teori yang telah diperoleh dengan makna biasa ini menjadi sistem matematika yang letak kebenarannya ada pada definisi-definisi itu.

    G. Frege, Russell dan Whitehead telah secara rinci memberi makna biasa dari term-term tak didefinisikan Peano dan membuat definisi-definisi dengan teknik lambang logika. ‘Bilangan 2′ dalam primitif Peano adalah kosong dari arti. Bilangan 2 adalah makna ‘biasa’. Bilangan alam 2 (biasa) adalah ciri khas dari koleksi himpunan-himpunan C terdiri dari objek-objek, yakni n(C) = 2. Bilangan 2 didefinisikan sebagai berikut: “Terdapat objek x dan objek y sedemikian rupa sehingga (1) x C dan y C, (2) x y, (3) Jika z C adalah sebarang anggota di C, maka z = x atau z = y” Dari definisi ini kita dapat menyimpulkan bahwa n(C) = 2 dengan pertolongan logika.

    Kebenaran Matematika dalam Sains Empiris


    Tiga term primitif Peano adalah ’0′, ‘bilangan’, dan ‘pengikut’, dapat diinterpretasikan dengan makna biasa dengan banyak cara. Misalnya, primitif ‘bilangan’ diartikan bilangan alam 0, 1, 2, 3, … Primitif dalam makna biasa ini didefinisikan melalui konsep-konsep logika (ada 4 konsep pokok). Ternyata aksioma-aksioma Peano, melalui deduksi, menjadi proposisi-proposisi. Selanjutnya jika perlu diteruskan dengan membuat definisi-definisi non-primitif melalui prinsip-prinsip logika. Dengan cara ini seluruh teori matematika dapat dideduksi dengan menggunakan konsep-konsep logika dan jika diperlukan ditambahkan ‘aksioma pilihan’ dan ‘aksioma infinit’. Dari kenyataan ini maka timbullah pemikiran bahwa matematika adalah cabang logika. Akibat selanjutnya ialah bahwa kebenaran matematika terletak pada definisi-definisi itu. Inilah letak kebenaran aksioma Peano dalam makna biasa. Berbeda dengan teori geometri, geometri dipandang sebagai studi tentang struktur ruang fisik, maka primitif-primitifnya harus dibangun dengan mengacu pada entitas fisik jenis tertentu. Jadi, dengan demikian kebenaran teori geometri dalam interpretasi ini terletak pada persoalan empiris.

    Tentang kegunaan matematika dalam sains empiris, harus dilihat dengan telaah lebih mendalam. Sebagian terbesar perkembangan sains empiris (IPA dan IPS) telah diperoleh melalui penerapan terus menerus proposisi-proposisi matematika. Akan tetapi perlu diingat, bahwa fungsi matematika di sini bukan memprediksi, melainkan sebagai analisis atau ekspliaktif. Matematika membuka asumsi-asumsi secara eksplisit atau membuka asersi-asersi yang termuat dalam premis-premis argumen. Matematika membuka data, yakni, mana yang diketahui dan mana yang dipersoalkan. Jadi, penalaran matematis dan logis adalah teknik konseptual membuka perangkat premis-premis yang implisit menjadi premis-premis yang eksplisit.

    Landasan dan Paradoks dalam Matematika

    Krisis landasan dalam matematika selalu diawali dengan munculnya paradoks atau antinomi dalam matematika.

    Krisis I. Pada abad ke-5 SM, muncul paradoks bahwa ukuran sama jenis (dalam geometri) adalah proporsional. Konsekuensi dari paradoks ini menjadikan semua ‘teori proporsi’ model Pythagoras dicoret dan dinyatakan salah. Krisis ini tidak segera di atasi dan baru sekitar 500 tahun kemudian oleh Eudoxus dengan penemuannya bilangan rasional pada tahun 370 SM.

    Krisis II. Pada abad ke-17, Newton dan Leibniz menemukan kalkulus. Hasil ini sangat diagungkan karena penerapannya yang gemilang, dengan konsepnya ‘infinitesial’. Malangnya, hasil-hasil penerapannya justru digunakan untuk menjelaskan landasannya. Krisis ini dapat diatasi pada abad ke-19 oleh Cauchy dengan memperbaiki konsep kalkulus melalui konsep ‘limit’. Dengan aritmetisasi oleh Wierstrass, krisis landasan II telah diatasi.

    Abad ke-19 Cantor menemukan teori himpunan. Teori ini disambut antusias oleh para matematikawan dan teori himpunan telah menjadi landasan cabang-cabang matematika. Burali Forti, Bertrand Russel mengajukan paradoks-paradoks dalam teori himpunan. Misalnya H = {x | x H}, yakni, H adalah himpunan semua x sedemikian sehingga x H. Sampai sekarang krisis belum dapat diatasi. Melalui filsafat (yang selalu mencari sesuatu yang hakiki) dilakukan program-program mengatasi krisis. Ada tiga kelompok besar yang ingin mengatasi krisis ini, yang memunculkan tiga aliran: logistis, formalis, dan intuisionis.

    Macam-macam Aliran dalam Membangun Landasan

    Krisis landasan matematika, terutama yang berlandaskan teori himpunan dan logika formal, memaksa para matematikawan mencari landasan filsafat yang ingin mengonstruksi seluruh massa matematika yang besar, sehingga dapat diperoleh landasan yang kokoh. Mereka terpecah ke dalam tiga aliran besar filsafat matematika: logistis, intuisionis, dan formalis.

    Kaum logistis dengan pimpinan Bertrand Russell dan Whitehead, menganggap bahwa sebagai konsekuensi dari programnya, matematika adalah cabang dari logika. Oleh karena itu, seluruh matematika sejak zaman kuno perlu dikonstruksi kembali ke dalam term-term logika. Hasil program ini adalah karya monumental “Principia Mathematica”. Dalam buku ini hukum ‘excluded middle’ dan hukum ‘kontradiksi’ adalah ekuivalen. Kesulitan timbul salam usaha mereka merakit beberapa metode kuno untuk menghilangkan aksioma reduksi yang tidak disukai.

    Kaum intuisionis dengan pimpinan Brouwer, menganggap, sebagai konsekuensi dari programnya, bahwa logika adalah cabang dari matematika. Matematika haruslah dapat dikonstruksi seperti bilangan alam dalam sejumlah langkah finit. Mereka menolak hukum ‘excluded middle’ jika akan diberlakukan untuk langkah infinit. Heyting membangun perangkat logika-intuisionis dengan lambang-lambang yang diciptakannya. Kesulitan yang timbul adalah berapa banyak keberadaan matematika dapat dibangun tanpa tambahan (perangkat logika) yang diperlukan.

    Kaum formalis dengan pimpinan Hilbert menganggap bahwa matematika, sebagai konsekuensi dari programnya, adalah sistem lambang formal tanpa makna. Untuk mengonstruksi seluruh matematika yang telah ada, diperlukan ‘teori bukti’ untuk menjamin konsistensinya. Dengan lambang-lambang formal kaum formalis menghasilkan karya monumentalnya “Grunlagen der Mathematik:”, jilid I dan II. Malangnya, K. Godel, matematikawan Italia menunjukkan bahwa konsistensi suatu perangkat aksioma karya Hilbert ‘tak dapat ditentukan’, bahkan sebelum buku Hilebrt II diterbitkan.

    John von Neumann (1903 – 1957)

    John von Neumann termasuk salah satu matematikawan abad 20. Seperti kebanyakan matematikawan yang lain ia pun berkontribusi penting baik dalam matematika maupun dalam sains. Von Neumann khususnya tertarik pada permainan strategi dan peluang. Jadi tidak mengejutkan apabila ia adalah salah seorang yang membuka bidang matematika baru yang disebut game theory (teori permainan). Dengan menggunakan peluang yang terlibat dalam peluang strategi dan ia membuat strategi yang menghasilkan “pemenang” dalam permainan pembuatan keputusan, teori permainan von Neumann dapat menyelesaikan masalah-masalah dalam ekonomi, sains, dan strategi militer.

    Von Neumann dilahirkan di Budapest, Hongaria. Ketika berusia 6 tahun, ia mampu melakukan operasi pembagian seperti 78.463.215: 49.673.235 di luar kepala. Pada usia 8 tahun ia telah memperoleh master dalam kalkulus dan mempunyai trik tertentu mengingat dalam sekali pandang terhadap nama, alamat, dan nomor telepon dalam satu kolom buku telepon. Ketika berusia 23 tahun ia menulis sebuah buku berjudul Mathematical Foundations of Quantum Mechanics, yang digunakan dalam pengembangan energi atom.

    Pada tahun 1930, von Neumann hijrah ke Amerika Serikat untuk memangku jabatan guru besar dalam fisika-matematika pada Universitas Princeton. Ia menjadi berminat dalam penggunaan komputer berskala besar dan ia salah satu pembangun otak elektronik modern, yang disebut MANIAC (Mathematical Analyzer, Numerical Integrator and Computer). Sebagai penasihat selama Perang Dunia II, ia memberi kontribusi dalam mendisain senjata dan peluru nuklir.

    Von Neumann mempunyai banyak minat intelektual, namun kebanggaan terbesarnya adalah menyelesaikan masalah. Suatu ketika ia menjadi begitu berminat adalah sebuah masalah ketika dalam perjalanan ia ingin menelepon istrinya untuk mencari tahu mengapa ia melakukan perjalanan. Karena kemampuan von Neumann menyelesaikan masalah, cakrawala matematis kita telah makin luas.

    Geometri Aksiomatis dan Empiris


    Geometri Aksiomatis

    Kebenaran hipotesis atau teorema dalam sains empiris hanya untuk ‘sementara waktu’, atau ‘sampai ditemukan ketidakcocokannya dengan data empiris baru’. Sebaliknya kebenaran dalam matematika, sekali dibangun ‘untuk selama-lamanya’. Kebenaran matematika dapat dipahami melalui analisis metode bagaimana matematika itu dibangun. Metode demikian adalah demonstrasi-matematis yang terdiri dari deduksi logis dari aksioma atau suatu teorema yang dideduksi dari teorema-teorema yang telah terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya. Agar langkah mundur ini tidak berkesudahan, maka harus ada proposisi yang diterima tanpa bukti, yang disebut perangkat aksioma atau postulat.

    Dalam geometri khususnya ternyata perangkat aksioma Euclid tidak cukup, artinya ada teorema-teorema yang tidak dapat dibuktikan secara langsung melalui deduksi logis postulat-postulatnya. Dalam buku Euclid, suatu teorema kadang-kadang dibuktikan dengan menggunakan intuisi hubungan geometri, misalnya gambar dan pengalaman dengan benda tegar. Ketidak-cukupan ini oleh Hilbert ditambah dengan postulat ‘terletak’ dan ‘antara’. Postulat kesejajaran Euclid terbukti tidak dapat dideduksi dari postulat-postulat lainnya. Hal ini menggelitik para pakar untuk ‘mengganti’ postulat ini dengan postulat yang lain. Hasilnya, Lobachevsky dan Bolyai menemukan geometri hiperbolik sedangkan Riemann menemukan geometri eliptik, kedua-duanya dikategorikan sebagai geometri non-euclid.

    Kepastian matematis dikatakan relatif terhadap perangkat aksioma yang mendasarinya tempat diturunkannya suatu teorema, dan dikatakan perlu karena teorema-teorema sebenarnya hanyalah secara implisit telah terkandung dalam perangkat postulat itu. Oleh karena perangkat postulat tidak mengacu kepada data empiris, maka sebagai konsekuensinya, teorema-teorema pun tidak mengacu kepada data empiris. Dan Anda juga tahu bahwa kebenaran suatu aksioma adalah apriori, sebuah kebenaran yang diperoleh dari kata-kata yang dikandungnya.

    Geometri murni adalah geometri yang dikembangkan melalui metode formal murni (aksiomatis). Geometri ini sama sekali tidak berkaitan dengan material fisik khusus. Postulat-postulat ditetapkan dan teorema-teorema diperoleh melalui deduksi logis menggunakan logika formal, dan analisis konsep, kosong dari arti. Kebenarannya adalah persis (pasti dan perlu). Adanya nama-nama seperti titik, garis, dan sebagainya. yang sama dengan nama-nama fisik hanyalah kebetulan saja.

    Geometri dalam sejarah perkembangannya memang merupakan generalisasi dari pengalaman empiris dalam berbagai praktik keteknikan sederhana. Oleh karena itu, juga sering disebut sebagai teori struktur ruang fisik, atau geometri fisik. Geometri fisik dapat diperoleh melalui interpretasi semantik, yakni, pemberian makna khusus, designatum, kepada primitif-primitif yang harus memenuhi semua perangkat aksioma dalam geometri murni. Akibatnya semua geometri murni menjadi teorema yang bermakna – pernyataan fisik dan sepenuhnya terhadap teorema-teorema di dalamnya dapat dimunculkan sifat benar-salah. Jadi interpretasi semantik kepada primitif ke dalam makna khusus ini akan mengubah geometri murni menjadi geometri fisik. Term ‘segitiga’ adalah term dalam geometri murni, sedangkan term ‘daerah segitiga’ adalah term dalam geometri fisik. Term-term ‘persegi kertas’, ‘persegi kerangka’ adalah term-term dalam geometri fisik. Demikian pula luas daerah lingkaran adalah kali kuadrat jari-jari adalah teorema dalam geometri fisik.

    Jika geometri fisik digunakan menyelesaikan masalah yang terkait dengan pengalaman sehari-hari dan kemudian ada ketidakcocokan, maka ketidakcocokan ini harus dicari dari situasi fisiknya. Masalah ini dinamakan konvensi Poincare. Penalarannya adalah sebagai berikut. Jika geometrik fisik G akan diuji kebenarannya, maka pengujian itu tentu melibatkan benda (sains) tertentu P (misalnya pengukuran atau observasi sistematik). Hasil ujinya adalah konfirmasi G-P, dan bukan hanya G sendiri. Jika hasil amatan ternyata tidak cocok, maka yang perlu divalidasi adalah P dan bukan G.

    Apakah ruang fisik berstruktur euclid atau non-euclid, hanyalah masalah konvensi saja. Poincare selalu mengambil geometri euclid sebagai struktur ruang fisik, tetapi ketika Einstein mengambangkan teori relativitas umumnya, ia mengambil geometri-eliptik (non-euclid) sebagai struktur ruang fisik.

    Matematika sebagai Metode dan Seni


    Walaupun tidak sempurna, matematika aksiomatis dibuka oleh geometri Euclid pada abad ketiga. Peano membuat aksioma yang mula-mulanya untuk bilangan alam. Aksioma ini berbuah lebat. Hilbert menyempurnakan aksioma Euclid. Perangkat aksioma harus memenuhi syarat tertentu antara lain: (a) terdiri dari kata-kata yang kosong dari arti (primitif), (ii) banyaknya primitif harus minimal, (iii) perangkat primitif harus konsisten, dan independen. Teorema-teorema dideduksi secara logis dengan menggunakan logika formal. Dengan metode langkah-langkah seperti itu maka muncul matematika baru yang disebut sistem matematika. Karena itu geometri dapat dipandang sebagai sebuah metode (metode membangun karya matematis).

    Dalam geometri murni, term-term primitif kosong dari arti. Teorema-teorema dideduksi secara logis menggunakan logika formal. Teorema-teorema pun kosong dari arti. Kebenaran teorema-teorema ini adalah kondisional.

    Dalam geometri fisik atau orang awam menyebutnya geometri empiris, perangkat aksioma diambil dari geometri murni dengan cara memberi makna fisik untuk term-term primitif. Teorema-teorema kemudian juga mengandung makna fisik. Sekarang perangkat aksioma dan teorema-teorema dalam geometri fisik bernilai benar.

    Untuk pengembangan teorema-teorema matematikawan memiliki daya imajinasi, abstraksi, inspirasi, dan kreativitas, yang pada umumnya juga berdasarkan pengalaman.

    Sekarang kita kembali ke pertanyaan awal kita. Apakah matematika itu? Kita mampu mengatakan bahwa dalam nurani manusia, suatu kehidupan, selalu berubah, entitas eksklusif, terdapat unsur-unsur yang menghasilkan seni dan pengetahuan. Jika kita pelajari apa yang mereka hasilkan, kita dapati bahwa yang dihasilkan itu disebut keindahan, dan memuat unsur-unsur yang dapat kita pandang baik dari sisi dinamika kehidupan sebagai unsur-unsur dalam suatu struktur jika dipandang oleh seniman, atau kita dapat melihat hasilnya dari sisi statis, sebagai pengetahuan, dan menamakannya: ritme (irama) order (urutan), disain (rancang bangun), dan harmoni (laras). Matematika adalah, pada sisi statis, suatu kreasi ritme, order, disain, dan harmoni baru, dan pada sisi pengetahuan, adalah studi sistematik dari berbagai ritme, orde, disain, dan harmoni. Kita dapat meringkasnya ke dalam pernyataan bahwa matematika adalah, pada studi kualitatif dari struktur keindahan, dan pada sisi lain adalah kreator dari bentuk-bentuk artistik baru dari keindahan, Matematikawan adalah sekaligus kreator dan pengkritik, tentu saja, tidak selalu pada orang yang sama. Yang sangat terkenal sebagai kreator besar adalah Sylvester, Kleine, dan Poincare, dan mereka ini tidak terlalu tertarik dari sisi kritik. Sedangkan dari sisi kritik terkenal nama-nama kritikus unggul Cayley, Hilbert, dan Picard. Sylvester tidak pernah tahu bahan apa yang akan diberikan dalam perkuliahannya. Kleine dalam situasi putus asa terhadap Hilbert dengan kekhilafannya mengenai kreasi intuitif, dengan menggunakan sebarang medium untuk ekspresi yang akan memenuhi angan-angannya. Poincare selalu menyerang tentang pekerjaannya mengenai intuisi mata. Namun dalam semua matematikawan besar mulai dari Pythagoras sampai Poincare kita dapati karakter seniman yang dikombinasikan dalam berbagai derajat dengan karakter kesarjanaan.

    Kita dapat juga menjawab pertanyaan yang kedua: Mengapa matematika itu hanya menarik sedikit orang? Mary Austin dalam bukunya “Everyman’s Genius” mengajak semua para artis yang kreatif untuk belajar matematika tinggi, hal yang sama dianjurkan oleh Havelock Ellis. Bukan semata-mata tentang keterlibatan sifat kesarjanaan, bukan keingintahuan besar yang dipromosikan, tetapi untuk imajinasi tingkat tinggi yang diperlukan, untuk membangun pendalaman artistik yang tajam. Jika, misalnya, meskipun orang hanya belajar dalam bidang-bidang bilangan aljabar yang superkuadratik, yang mempunyai grup berorder 2N, akan mempelajari sesuatu yang baru tentang keindahan. Jika ia hanya belajar bidang-bidang bangun aljabar simetrik ia akan dipercantik oleh keindahan yang elegan. Aljabar determinan adalah kebun yang elok, terbuka pada setiap sisinya, seperti dapat dilihat dalam risalat Metzler. Jika orang mendapat teorema baru dalam geometri segitiga, ia akan terkejut dengan keindahannya. Hanya mengetahui transversal dari suatu segitiga, misalnya, dengan mengetahui titik-titik Brocard dan lingkaran Brocard, lingkaran Lemoine, lingkaran titik-sembilan dari Feuerbach, lingkaran-lingkaran Tucker, garis-garis isotomik, garis-garis isogonal dan lain-lain bangun, akan membawa keindahan baru pada imajinasi. Dalam teori bilangan teorema terakhir Fermat menunggu buktinya, dan akan mendapat mahkota kemuliaan bagi seseorang yang memberikan bukti. Aljabar-aljabar divisi Dickson menghiasi setiap realm (dunia akal) yang menarik dan dapat menguntungkan bagi teorema-teorema baru. Daftar demikian dapat diperpanjang tanpa akhir.

    Banyak matematikawan telah menjadi seniman dengan cara lain-lain. Ada yang menulis puisi, lainnya mengomposisi musik. Inkuiri yang dipimpin oleh kegiatan matematikawan beberapa tahun lampau didapati bahwa kebanyakan dari mereka dengan serius tertarik dalam suatu phase seni. Dan kebanyakan dari mereka dilaporkan bahwa penemuan-penemuan atau kreasi-kreasi mereka datang tepat seperti yang dialami para seniman mendapat inspirasi dengan cara lain. Matematikawan adalah pemimpi, dan dalam impiannya yang ilusif datang dan pergi; timbul dan tenggelam, dan lenyap; menggelinding kembali pada momen yang tidak diharapkan, tetapi terlepas dari genggaman yang akan menahannya; muncul lagi dalam tarian yang janggal, dan bermain dalam warna fantasi; lenyap; dan suatu hari melangkah pergi menggandeng tangan yang telah menantinya, dengan bilangan ideal Kummer sebagai hadiah. Matematikawan bermimpi dan dalam kekisruhannya yang kalut, bunga yang jujur dalam bentuk fantasi mekar dan hilang; angin sepoi-sepoi menggerayanginya dengan kilasan burung-burung masa kini dan seterusnya; dan matematika baru telah lahir, aljabar asosiatif linear oleh Benjamin Peirce. Inilah tanah yang kaya, dan kota, seperti “Metropolis of Tomorrow”nya Hugh Ferris, yang dalam kata-kata Tennyson, “membangun musik, maka yang sesungguhnya sama sekali tidak pernah membangun, dan karena itu selalu membangun”. Inilah dunia yang mengetahui tidak ada hukum kedua dari termodinamika, dunia yang menjamin bagi orang-orang yang memang dasarnya kreatif, keabadian waktunya, dan juga ketidakkekalannya


(Sumber buku Hakikat dan Sejarah Matematika Karya Sukardjono,
https://m.facebook.com/notes/dunia-matematika/sejarah-perkembangan-matematika/217020314975045/  )

Walaupun Halaman ini cuma COPAS semoga bermanfaat Aminn..! Selamat membaca